Ujian mid semester hari ini adalah mata kuliah bahasa inggris. Kebetulan kata dosennya kami dibolehkan untuk membawa kamus pada saat ujian. Jelas senang hati kami. Bagi yang "miskin kosa kata bahasa inggris" merasa terbantu banget dengan dibolehkannya membawa kamus. termasuk saya sih. Sebelum berangkat ke kampus saya sudah menyiapkan kamus. Tapi kamusnya kecil alis gak lengkap sih (Sudah minjam cerewet lagi..!). Eh sampai di kampus aku ingat kalau di hapeku kan ada aplikasi kamus inggris-Indonesia. Nama aplikasinya "PD English-Indonesia".
Ketika ujian berlangsung pun aku lebih sering mengartikan kata bahasa inggris menggunakan aplikasi ini. Kugunakan kamus buat membandingkan arti saja kalau aku sedikit bingung arti di aplikasi ini. Tapi menurutku malah lengkap kosakata bahasa inggris di aplikasi ini daripada di kamus yang kubawa. Ditambah lagi kalau di aplikasi ini juga setiap kata diberikan contoh penggunaannya. Lagipula kalau mengartikan lewat hape kan lebih cepet dari pada buka-buka kamus. Bikin pusing malah, isi kamus kan kata-kata semua. Sedangkan aplikasi kamus di hape tinggal masukkan keywordnya keluar deh artinya. Duh pokonya sip deh! Thanks banget ya aplikasi kamus...
Download disini kalau lewat komputer:
Download by getjar
Pilih Jar File.
Kalau lewat hp caranya sbb:
- Pergi ke m.getjar.com Klik disini
- Lalu Quick Download
- Masukkan kode 23829
- Gimana bisa? Kalau gak bisa komplain di komentar di bawah ini aja..
=Arsyil=
Wednesday, May 6, 2009
Tuesday, May 5, 2009
News flash: How to make money in fashion retail?
As it turns out, although fashion dominated Bendel's image as well as its floor space, clothing accounted for only 25% of sales. Instead, the new Bendel's will be pared down to its more lucrative beauty, accessories, and gifts departments, and smaller stores carrying only the house brand will open in shopping malls around the US.
Via WWD
Monday, May 4, 2009
Does the number of picnics match the living standards of Afghans?
Waiting for kebab, we lodge on a wooden platform just above the foaming Paghman River. Definitely it is now the most beautiful season in Afghanistan. Under trees full of pale white blosso
ms, everybody seems so relaxed: men smoking water pipes, giggling women, young football players, dressed in pink shalwar khameezes. This year the spring is different: there has been a lot of rain and it is now very green. Good crop is expected.
I am back in Afghanistan for a month. It is exciting to be here: to settle down again in “our” lovely garden house at an Afghan family compound, to meet our Kabul friends (both Afghans and internationals), to visit familiar shops on Chicken Street. Sad part is that after one and a half year my Dari language has almost vanished. At first I struggle even with the words for vegetables: Bubakshed, ba dari chi megan? – sorry, how do you call it in Dari?
We have a very special guest at our first picnic in Paghman: my husband’s former driver Karim, who has been our good friend for a long time. He had helped us with everyday problems (and believe me, there are a lot of minor headaches in Kabul). Even more, often he spent his only off days – Fridays - in order to wander together with us around Kargha Lake or at some othe
r lovely place close to Kabul. Sometimes he took along with him some of his lovely children, but never his wife. For Farzana it is not acceptable to go out in a company of a foreign man, my husband. But as a woman I have been lucky to meet her: I was invited as Farzana’s guest into a traditional wedding party at their house (sorry, no pictures).
Karim found a new job that matches better his qualifications, as once he studied law at Kabul University. Now he is working for an NGO as an attorney in order to help Afghans in prisons. His job is quite complicated: there are laws made by the government, but he has to consider the laws of Islam as well. But so far he seems to be much more satisfied as
I have ever seen him: his wife is happy with his improved reputation and four of his children are studying in a private school (the smallest one is still at home).
We walk up by the river away from the picnic area. We have done it before, but every time the walk has been different.
This time the road upstream is under water. Some cars (full of young modern Afghans) race through the water, so we have to cling to the rocks alongside.
I notice that there are now many more picnic areas when compared to the season three years ago. The terraces, once King’s gardens, are full of people again. A playground has been built for children and the ruins are turned into a mosque. “There are now more wealthy Afghans who can afford to go for a picnic,” is Karim’s opinion. Just so you know: we paid $10 for the kebab, tea and yogurt.
ms, everybody seems so relaxed: men smoking water pipes, giggling women, young football players, dressed in pink shalwar khameezes. This year the spring is different: there has been a lot of rain and it is now very green. Good crop is expected.I am back in Afghanistan for a month. It is exciting to be here: to settle down again in “our” lovely garden house at an Afghan family compound, to meet our Kabul friends (both Afghans and internationals), to visit familiar shops on Chicken Street. Sad part is that after one and a half year my Dari language has almost vanished. At first I struggle even with the words for vegetables: Bubakshed, ba dari chi megan? – sorry, how do you call it in Dari?

We have a very special guest at our first picnic in Paghman: my husband’s former driver Karim, who has been our good friend for a long time. He had helped us with everyday problems (and believe me, there are a lot of minor headaches in Kabul). Even more, often he spent his only off days – Fridays - in order to wander together with us around Kargha Lake or at some othe
r lovely place close to Kabul. Sometimes he took along with him some of his lovely children, but never his wife. For Farzana it is not acceptable to go out in a company of a foreign man, my husband. But as a woman I have been lucky to meet her: I was invited as Farzana’s guest into a traditional wedding party at their house (sorry, no pictures).Karim found a new job that matches better his qualifications, as once he studied law at Kabul University. Now he is working for an NGO as an attorney in order to help Afghans in prisons. His job is quite complicated: there are laws made by the government, but he has to consider the laws of Islam as well. But so far he seems to be much more satisfied as
I have ever seen him: his wife is happy with his improved reputation and four of his children are studying in a private school (the smallest one is still at home).We walk up by the river away from the picnic area. We have done it before, but every time the walk has been different.
This time the road upstream is under water. Some cars (full of young modern Afghans) race through the water, so we have to cling to the rocks alongside.I notice that there are now many more picnic areas when compared to the season three years ago. The terraces, once King’s gardens, are full of people again. A playground has been built for children and the ruins are turned into a mosque. “There are now more wealthy Afghans who can afford to go for a picnic,” is Karim’s opinion. Just so you know: we paid $10 for the kebab, tea and yogurt.
Instalasi Q-reader buat baca file e-book di Ponsel
MAu baca e-book di hp kamu ? Untuk membaca salah satu file e-book yang memiliki ekstensi format file "PDB" dan "PRC" di ponsel memerlukan aplikasi tambahan untuk dapat membuka file tersebut. Salah satunya adalah Q-reader (bisa langsung di cari di google search sebelah kanan blog ini) di handshet kamu dengan mengirimkan juga file *PDB yang terkonversi software aportis.
Setelah aplikasi Q-reader terinstall maka bisa langsung kamu gunakan dengan membuka file *PDB tersebut, dan secara langsung bisa membaca sebuah buku, novel dan dokumen lainnya. gimana mau mencoba...
Setelah aplikasi Q-reader terinstall maka bisa langsung kamu gunakan dengan membuka file *PDB tersebut, dan secara langsung bisa membaca sebuah buku, novel dan dokumen lainnya. gimana mau mencoba...
Sunday, May 3, 2009
Nuansa AAD XII IPA 1 SMAN 1 P Bun
Niat awal sih mau nyari fot atau video anak XII IPA 2 dulu eh malah dapat punya anak XII IPA 1. Satu persatu kulihat foto-fotonya kemudian videonya. Kudengar satu-persatu lagunya. kalau tidak salah ini adalah lagu-lagu yang dipakai guna memenuhi pelajaran kesenian (praktek). Dan dari beberapa lagu itu aku paling suka dengar lagunya kelompok yang anggotanya Anggi, Della, dan Andi. Secara suara Anggi dan Della bagus gitu. Trus gitar yang dibawakan Andi juga sip. Yang lebih menggetarkan hati lagi adalah lirik dari lagu itu. Lumayan menyentuh di hati.
Banyak basa basi ya diriku. Cuma mau sharing aja sih. Bagi teman-teman XII IPA 1 yang belum punya nih aku buat link downloadnya. Ohya, aku gak tau loh apa judul lagunya. Kukasih judul aja Nuansa AAD XII IPA 1. AAD itu singkatan dari Anggi, Della, dan Andi. Selamat bagi kalian bertiga yang sudah kupilih sebagai lagu terbaik!
Bagi teman-teman lain yang penasaran lagunya bisa ikutan download juga ko! Klik link di bawah ini:
Download Video Nuansa AAD XII IPA 1-youtube.com
Download MP3 Nuansa AAD XII IPA 1-ziddu.com
Silakan masukan/komentarnya…terima kasih.
=Arsyil
Banyak basa basi ya diriku. Cuma mau sharing aja sih. Bagi teman-teman XII IPA 1 yang belum punya nih aku buat link downloadnya. Ohya, aku gak tau loh apa judul lagunya. Kukasih judul aja Nuansa AAD XII IPA 1. AAD itu singkatan dari Anggi, Della, dan Andi. Selamat bagi kalian bertiga yang sudah kupilih sebagai lagu terbaik!
Bagi teman-teman lain yang penasaran lagunya bisa ikutan download juga ko! Klik link di bawah ini:
Download Video Nuansa AAD XII IPA 1-youtube.com
Download MP3 Nuansa AAD XII IPA 1-ziddu.com
Silakan masukan/komentarnya…terima kasih.
=Arsyil
Saturday, May 2, 2009
Menelaah Pendidikan Malaysia Dibanding Indonesia -By Arsyil
Tulisan ini saya buat dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (HARPIDNAS), 2 Mei 2009. Semoga menjadi koreksi bagi perkembangan pendidikan di Inonesia. Namun dalam hal ini saya akan menitikberatkan mengenai perbandingan antara sistem pendidikan negara kita dengan negara lain. Tak perlu muluk-muluk membandingkan dengan negara maju seperti Amerika atau Jepang, cukup kita telaah saja dengan negara tetangga dekat kita yaitu Malaysia. Pantaskah kita percaya diri bahwa kita lebih baik? Berikut hal yang harus kita pertimbangkan.
Dari referensi yang saya dapat ternyata bahkan dari sistem pendidikan yang terbawah (SD) hingga yang perguruan tinggi (universitas), Malaysia mempunyai nilai “lebih” dari kita. Di Malaysia negara sepenuhnya mendukung pembangunan pendidikan, baik dari sistem maupun dari sarana dan prasarana.
Di malaysia, ketika sebuah keluarga memiliki seorang anak maka orang tuanya wajib mendaftarkannya di sekolah rendah (Indonesia=SD) satu tahun sebelum masa sekolah. Hal ini dimaksudkan agar adanya kepastian bahwa anaknya mengikut pendidikan wajib. Di Malaysia masa persekolahan sekolah rendah adalah 7-12 tahun. Jadi saat seorang anak sudah berumur 6 tahun, jika orang tua belum mendaftarkannya ke sekolah rendah maka akan dikenakan sanksi undang-undang. Orang tua akan dikenakan denda max RM 5000 atau kurungan penjara max 6 bulan atau kedua-duanya sekali. Yang tak kalah bernilai “plus” juga adalah mengenai uang bayaran sekolah rendah di Malaysia. Tidak seperti di Indonesia yang banyak pungutan-pungutan sekolah, di Malaysia sumbangan PIBG (Persatuan Ibu Bapa dan Guru) hanya dibayar perkeluarga. Jadi kalau sebuah keluarga memiliki 1 anak atau lebih sama saja bayaran yang dikeluarkan. Selain itu pungutan lain tidak ada termasuk sumbangan untuk dana pembangunan. Sebab dana pembangunan sepenuhnya merupakan tanggungjawab pemerintah.
Selanjutnya mari kita menelaah ke jenjang perguruan tinggi. Ada beberapa perbedaan dengan di Indonesia. Jika kita melihat dari bayaran semesteran, kalau di Indonesia bayaran semester S2 dan S3 lebih mahal dari S1, sedang di Malaysia sebaliknya S1 malah lebih mahal dari S2 dan S3. Selain itu jika kuliah di universitas negeri di Malaysia, uang bayaran tiap semesternya semakin murah dengan bertambahnya semester. Misalnya pada semester 1 mahasiswa dikenakan uang semester sebesar RM 1700, sedangkan pada semester 2 sebesar RM 1400, dan seterusnya. Hal ini lagi-lagi dikarenakan pemerintahnya. Pemerintah kerajaan Malaysia memberikan subsidinya pada tiap kampus negeri disana.
Namun ada juga perbedaan yang cukup membuat Indonesia agak lebih “plus” dari malaysia. Yaitu dari segi output yang dihasilkan. Jika di Indonesia, mahasiswa lebih bebas mengikuti kegiatan ekstra dan kelompok-kelompok studi, di Malaysia mahasiswa seolah hanya difokuskan di dalam kampus saja ditambah ada peraturan yang melarang mahasiswa berkancah di perpolitikan. Sehingga bisa dibilang mahasiwa Malaysia lebih pasif. Jika ada diskusi atau seminar kurang vokal. Sedang di Indonesia tidak karena mahasiswanya sudah terbiasa vokal pada kegiatan ekstra.
Begitulah beberapa keadaan pendidikan di Malaysia atas perbandingan di Indonesia. Meskipun dalam tulisan saya ini lebih banyak menyebutkan kelebihan dari Malaysia, bukan berarti saya menjelekkan negeri saya sendiri. Masa’ sebagai anak bangsa kita malah tidak menghargai bangsanya sendiri. Yakinlah suatu saat pendidikan bangsa kita akan berubah. Oleh itu kita tetap semangat dan berjuang untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia. Sebab masa depan Indonesia ada di tangan kita! Hidup pemuda!
Referensi :
- http://f4iqun.wordpress.com/
- http://www.bawean.net/
Dari referensi yang saya dapat ternyata bahkan dari sistem pendidikan yang terbawah (SD) hingga yang perguruan tinggi (universitas), Malaysia mempunyai nilai “lebih” dari kita. Di Malaysia negara sepenuhnya mendukung pembangunan pendidikan, baik dari sistem maupun dari sarana dan prasarana.
Di malaysia, ketika sebuah keluarga memiliki seorang anak maka orang tuanya wajib mendaftarkannya di sekolah rendah (Indonesia=SD) satu tahun sebelum masa sekolah. Hal ini dimaksudkan agar adanya kepastian bahwa anaknya mengikut pendidikan wajib. Di Malaysia masa persekolahan sekolah rendah adalah 7-12 tahun. Jadi saat seorang anak sudah berumur 6 tahun, jika orang tua belum mendaftarkannya ke sekolah rendah maka akan dikenakan sanksi undang-undang. Orang tua akan dikenakan denda max RM 5000 atau kurungan penjara max 6 bulan atau kedua-duanya sekali. Yang tak kalah bernilai “plus” juga adalah mengenai uang bayaran sekolah rendah di Malaysia. Tidak seperti di Indonesia yang banyak pungutan-pungutan sekolah, di Malaysia sumbangan PIBG (Persatuan Ibu Bapa dan Guru) hanya dibayar perkeluarga. Jadi kalau sebuah keluarga memiliki 1 anak atau lebih sama saja bayaran yang dikeluarkan. Selain itu pungutan lain tidak ada termasuk sumbangan untuk dana pembangunan. Sebab dana pembangunan sepenuhnya merupakan tanggungjawab pemerintah.
Selanjutnya mari kita menelaah ke jenjang perguruan tinggi. Ada beberapa perbedaan dengan di Indonesia. Jika kita melihat dari bayaran semesteran, kalau di Indonesia bayaran semester S2 dan S3 lebih mahal dari S1, sedang di Malaysia sebaliknya S1 malah lebih mahal dari S2 dan S3. Selain itu jika kuliah di universitas negeri di Malaysia, uang bayaran tiap semesternya semakin murah dengan bertambahnya semester. Misalnya pada semester 1 mahasiswa dikenakan uang semester sebesar RM 1700, sedangkan pada semester 2 sebesar RM 1400, dan seterusnya. Hal ini lagi-lagi dikarenakan pemerintahnya. Pemerintah kerajaan Malaysia memberikan subsidinya pada tiap kampus negeri disana.
Namun ada juga perbedaan yang cukup membuat Indonesia agak lebih “plus” dari malaysia. Yaitu dari segi output yang dihasilkan. Jika di Indonesia, mahasiswa lebih bebas mengikuti kegiatan ekstra dan kelompok-kelompok studi, di Malaysia mahasiswa seolah hanya difokuskan di dalam kampus saja ditambah ada peraturan yang melarang mahasiswa berkancah di perpolitikan. Sehingga bisa dibilang mahasiwa Malaysia lebih pasif. Jika ada diskusi atau seminar kurang vokal. Sedang di Indonesia tidak karena mahasiswanya sudah terbiasa vokal pada kegiatan ekstra.
Begitulah beberapa keadaan pendidikan di Malaysia atas perbandingan di Indonesia. Meskipun dalam tulisan saya ini lebih banyak menyebutkan kelebihan dari Malaysia, bukan berarti saya menjelekkan negeri saya sendiri. Masa’ sebagai anak bangsa kita malah tidak menghargai bangsanya sendiri. Yakinlah suatu saat pendidikan bangsa kita akan berubah. Oleh itu kita tetap semangat dan berjuang untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia. Sebab masa depan Indonesia ada di tangan kita! Hidup pemuda!
Referensi :
- http://f4iqun.wordpress.com/
- http://www.bawean.net/
Antivirus Ganda Itu Perlu –Tips by Arsyil
Pernahkan saat menscan flashdisk dengan sebuah antivirus dan selesai dengan hasil tidak ada virus namun setelah mencoba dengan antivirus lain ternyata masih ada virus? Padahal antivirus pertama yang kita gunakan sudah di-update. Hal itu mungkin sekali terjadi. Sebab perlu diketahui bahwa sumber virus yang masuk ke komputer/laptop kita dapat dari berbagai belahan di dunia.
Namun karena kita tinggal di negara Indonesia maka kemungkinan virus yang masuk ke komputer/laptop kita lebih berkesempatan besar virus dari dalam negeri. Mending kalau para pembuat virus di Indonesia belumlah banyak, tetapi dengan semakin berkembangnya teknologi informasi di Indonesia kini para “orang-orang nakal” itu semakin bertambah dan berkembang pula.
Oleh itu kita jangan cuma terfokus pada satu antivirus saja, biasanya antivirus mancanegara, misal seperti AVIRA, AVG, AVAST, KASPERSKY. Saya sarankan agar rekan-rekan tidak lupa mnaruh antivirus dalam negeri juga, misal seperti PCMAV, SMADAV, ANSAV.
Sebagai contoh adalah pada laptop saya. Sekarang saya menggunakan antivirus ESET NOD32, tapi juga menyiapkan antivirus dalam negeri yaitu PCMAV 2 dan SMADAV 3. Jadi seandainya saya curiga dengan sebuah flashdisk yang kemungkinan banyak virus setelah menscan dengan ESET NOD32 saya juga menscan dengan PCMAV/SMADAV.
Pelu diketahui bahwa antivirus lokal kita sekarang sudah berkembang bahkan virus terbaru saat ini yaitu conficker/kido, antivirus lokal dapat mendeteksinya. Saya beberkan juga kelebihan dari SMADAV, jika ada dokumen word yang terkena virus dan kita scan dengan antivirus ini maka akan disembuhkan seperti keadaan semula. Berbeda dengan antivirus lainnya yang biasanya otomatis menghapusnya.
Bagi yang belum punya PCMAV/SMADAV dapat mendownloadnya di link dibawah ini:
Download PCMAV 2
Download SMADAV 3
Silakan masukan/komentarnya…terimakasih.
=Arsyil=
Namun karena kita tinggal di negara Indonesia maka kemungkinan virus yang masuk ke komputer/laptop kita lebih berkesempatan besar virus dari dalam negeri. Mending kalau para pembuat virus di Indonesia belumlah banyak, tetapi dengan semakin berkembangnya teknologi informasi di Indonesia kini para “orang-orang nakal” itu semakin bertambah dan berkembang pula.
Oleh itu kita jangan cuma terfokus pada satu antivirus saja, biasanya antivirus mancanegara, misal seperti AVIRA, AVG, AVAST, KASPERSKY. Saya sarankan agar rekan-rekan tidak lupa mnaruh antivirus dalam negeri juga, misal seperti PCMAV, SMADAV, ANSAV.
Sebagai contoh adalah pada laptop saya. Sekarang saya menggunakan antivirus ESET NOD32, tapi juga menyiapkan antivirus dalam negeri yaitu PCMAV 2 dan SMADAV 3. Jadi seandainya saya curiga dengan sebuah flashdisk yang kemungkinan banyak virus setelah menscan dengan ESET NOD32 saya juga menscan dengan PCMAV/SMADAV.
Pelu diketahui bahwa antivirus lokal kita sekarang sudah berkembang bahkan virus terbaru saat ini yaitu conficker/kido, antivirus lokal dapat mendeteksinya. Saya beberkan juga kelebihan dari SMADAV, jika ada dokumen word yang terkena virus dan kita scan dengan antivirus ini maka akan disembuhkan seperti keadaan semula. Berbeda dengan antivirus lainnya yang biasanya otomatis menghapusnya.
Bagi yang belum punya PCMAV/SMADAV dapat mendownloadnya di link dibawah ini:
Download PCMAV 2
Download SMADAV 3
Silakan masukan/komentarnya…terimakasih.
=Arsyil=
Subscribe to:
Comments (Atom)